Yonas Post : Yang ingin tahu tentang DIODA

Kamis, 02 Mei 2013
Posted by Unknown






A. Rangkaian Penyearah (Rectifier Circuit)

Sebagian besar rangkaian elektronika membutuhkan tegangan DC untuk dapat bekerja dengan baik. Karena tegangan jala-jala adalah tegangan AC, maka yang harus dilakukan terlebih dahulu dalam setiap peralatan elektronika adalah mengubah atau menyearahkan (rectifying) tegangan AC ke DC. Pada umumnya, tegangan AC didekati dengan sinyal gelombang sinus, seperti tampak pada Gambar 4.1. Secara matematika, gelombang sinus dinyatakan oleh:
v = Vp sin (t+θ) (4.1)
dimana v = tegangan sesaat
Vp = tegangan puncak
θ = sudut dalam derajat atau radian

 






Gambar 4.1 Gelombang Sinus

Beberapa peralatan elektronika mengandung sebuah transformator seperti tampak pada Gambar 4.2 untuk menaikkan atau menurunkan tegangan jala-jala. Besarnya penaikkan atau penurunan tegangan sebanding dengan rasio jumlah lilitan pada bagian primer dengan jumlah lilitan sekunder. Untuk memudahkan pemahaman berikutnya, perbandingan ini tidak dibahas lebih lanjut. Sebagai gantinya, hanya tegangan sekunder yang diberikan.


 




Gambar 4.2 Transformator

B. Rangkaian Penyerarah Setengah Gelombang

Gambar 4.3 memperlihatkan rangkaian yang disebut penyearah setengah gelombang (half wave rectifier). Pada setengah siklus tegangan sekunder yang positif, dioda mengalami forward biased untuk setiap tegangan yang lebih dari 0.7 volt (tegangan offset). Ini menghasilkan tegangan lintas tahanan beban (RL) yang mendekati bentuk setengah gelombang sinus. Pada setengah siklus negatif, diode mengalami reverse biased, yang menyebabkan arus beban menjadi nol dan tegangan beban jatuh menjadi nol.


Gambar 4.3 Rangkaian Penyerah Setengah Gelombang

Jika digunakan pendekatan dioda ideal, puncak tegangan yang disearahkan sama dengan puncak tegangan sekunder, seperti ditunjukkan pada Gambar 4.4(a). Sedangkan, jika digunakan pendekatan dioda offset, puncak tegangan yang disearahkan memiliki tegangan puncak keluaran yang lebih rendah dari tegangan puncak masukan, seperti tampak pada Gambar 4.4(b).

(a)


(b)

Gambar 4.4 Tegangan Masukan dan Keluaran Penyerah Setengah Gelombang
(a)   Pendekatan Dioda Ideal dan (b) Pendekatan Dioda Offset

C. Rangkaian Penyearah Gelombang Penuh dengan Center Tap Trafo

Nampak dari gambar diatas, bahwa penyearah setengah gelombang, belum menghasilkan tegangan DC yang baik. Oleh karena itu, diupayakan cara-cara lain untuk mendapatkan tegangan DC yang lebih baik. Gambar 4.5 menunjukkan sebuah rangkaian penyearah gelombang penuh dengan menggunakan Center Tap Trafo. Selama setengah siklus tegangan sekunder yang positif, dioda yang atas mengalami forward biased dan dioda yang bawah mengalami reverse biased. Sehingga, arus mengalir melalui dioda yang atas, ke tahanan beban, dan setengah belitan yang atas. Sebaliknya, selama setengah siklus tegangan sekunder yang negatif, arus akan mengalir melalui dioda yang bawah, ketahanan beban l, dan setengah belitan yang bawah.



Gambar 4.5 Rangkaian Penyearah Gelombang Penuh dengan Center Tap Trafo

Dalam kedua siklus diatas, tahanan beban mendapatkan polaritas yang sama, tanpa memperhatikan dioda mana yang konduksi. Sehingga, tegangan keluaran pada beban berbentuk sinyal gelombang penuh yang disearahkan seperti terlihat pada Gambar 4.6.


(a)
 







                   (b)   

                                                
                                                 
                                                                                                                                                                                          (c)

Gambar 4.6 Penyearah Gelombang Penuh Center Tap Trafo: (a) Proses Penyearahan
(b)  Pendekatan Dioda Ideal dan (c) Pendekatan Dioda Offset

D. Rangkaian Penyearah Gelombang Penuh dengan Dioda Jembatan

Pada saat ini, penyearah gelombang penuh dengan Center Tap Trafo, tidak umum digunakan. Penyerah gelombang penuh yang paling terkenal ialah penyearah jembatan (bridge rectifier). Gambar 4.7 menunjukkan rangkaian dan proses penyearah jembatan. Selama setengah siklus tegangan sekunder yang positif, dioda kanan atas dan dioda kiri bawah di-forward biased, sehingga tegangan beban mempunyai polaritas yang searah. Selama setengah siklus negatif, dioda kiri atas dan dioda kanan bawah yang forward biased, sehingga tahanan beban juga memiliki polaritas yang sama dengan sebelumnya. Secara bentuk, tegangan masukan dan keluaran penyearah gelombang penuh dengan menggunakan bridge dioda sama dengan menggunakan center tap trafo.





Gambar 4.7 Rangkaian dan Proses Penyearah Gelombang Penuh dengan bridge
Dioda

E. Rangkaian Penyearah dengan Filter Kapasitor
Keluaran penyearah rata-rata adalah tegangan DC yang memiliki denyut (ripple). Untuk mengubah denyut ini ke tegangan DC yang tetap, dibutuhkan sebuah penapis (filter). Gambar 4.8 memperlihatkan rangkain penyearah setengah gelombang dengan penapis menggunakan Kapasitor.


Gambar 4.8 Rangkain Penyearah Setengah Gelombang dengan Filter Kapasitor

Selama seperempat siklus pertama dari tegangan sumber, dioda di-forward biased. Pada saat itu, dioda menghubungkan sumber langsung melintas kapasitor, sehingga kapasitor diisi sampai tengangan puncak. Namun, setelah melewati puncak positif, dioda berhenti konduksi. Pada keadaan ini, kapasitor membuang muatannya melalui resistansi beban. Dengan rancangan yang baik, tetapan waktu pembuangan (tRC) dapat dibuat jauh lebih besar daripada perioda T sinyal masuk. Oleh karena itu, kapasitor hanya kehilangan sebagian besar kecil muatannya. Kemudian, pada saat tegangan sumber mencapai puncaknya kembali, dioda menghantar sebentar dan mengisi kapasitor kembali sampai tegangan puncaknya. Proses ini digambarkan pada Gambar 4.9.


(a)


(b)

Gambar 4.9 Penapisan sinyal DC menggunakan kapasitor (a) Proses dan
(c)   Detail Hasil Pemfilteran

Hal ini juga terjadi pada rangkaian penyearah gelombang penuh dengan diode bridge, sebagaimana tampak pada Gambar 4.10.


(a)

(b)

Gambar 4.10 Rangkaian Penyearah Dioda Bridge dengan penapis kapasitor





Gambar 4.11 Keluaran Tegangan DC

Penyearah berfungsi untuk mengubah tegangan AC menjadi tegangan DC. Penyearah ada 2 macam, yaitu penyearah setengah gelombang dan penyearah gelombang penuh.

F. Rumus Tegangan Penyearah Setengah Gelombang:

Nilai tegangan puncak input transformator:

VRMS=Vmax /√2
VRMS=0,707 X Vmax

Tegangan rata-rata DC pada penyearah setengah gelombang adalah:


VDC=Vmax / π
VDC=0,318 x Vmax

Frekuensi output:

fout = fin

Tegangan Maksimal DC pada penyearah setengah gelombang adalah:

Vmax = 2.Vpp
G. Rumus Tegangan Penyearah Gelombang Penuh:

Tegangan rata-rata DC pada penyearah sinyal gelombang penuh:

VRMS=Vmax /√2
VRMS=0,707 X Vmax

Frekuensi output:

fout = 2.fin


“Sekian Terima kasih”
~Selamat Belajar~





Source : Makalah DIODA SEMESTER III



TAULADAN ORANG-ORANG BAHAGIA

Seperti yang kita ketahui bahwa para nabi dan para rasul adalah makhluk yang paling besar kebahagiaannya, sebab mereka adalah orang yang paling besar ridhanya dengan Allah, paling besar ketaatannya kepada Allah, paling besar kepercayaannya dengan janji Allah, paling besar jihadnya di jalan Allah, dan paling rajin  melaksanakan perintah Allah siang dan malam, dalam waktu senang ataupun susah. Oleh karena itu, Allah memerintahkan kita untuk meniru dan mengikuti mereka. Allah Swt berfirman, 

Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah, maka ikutilah petunjuk mereka.” (QS. Al An’âm[6]:90)

Lihat Nabi Nuh As. Ia menemui kaumnya dan menyampaikan perintah Tuhannya. Namun, kaumnya menyakitinya bahkan sampai membuatnya pingsan. Ketika ia siuman, ia berkata kepada mereka, 
Hai kaumku, sembahlah oleh kamu Allah, (karena) sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain Dia.” (QS. Al Mukminûn[23]:23)
Kaumnya juga pernah melukainya hingga darahnya mengucur deras, padahal ia mendoakan mereka, “Wahai Tuhanku, ampunilah kaumku, sebab mereka tidak tahu.” Nabi Nuh As tinggal bersama mereka selama 950 tahun, namun sampai akhir hayatnya, yang beriman kepadanya hanya segelintir orang saja. Ia mengadu kepada Tuhannya, 
"Aku ini adalah orang yang dikalahkan, oleh sebab itu menangkanlah (aku).” (QS. Al Qamar[54]:10) 
Maka Allah pun menyejukkan hatinya dan menolongnya. Tidak ada yang selamat dari air bah kecuali orang yang naik ke atas kapal.
Lihat Nabi Ibrahim As. Ia memperingatkan dan mengancam bapaknya dengan lembut. Ia berkata, 
Semoga keselamatan dilimpahkan kepadamu, aku akan memintakan ampun bagimu kepada Tuhanku. Sesungguhnya Dia sangat baik kepadaku. Aku akan menjauhkan diri darimu dan dari apa yang kamu seru selain Allah, dan aku akan berdo'a kepada Tuhanku, mudah-mudahan aku tidak akan kecewa dengan berdo'a kepada Tuhanku.”(QS. Maryam[19]:47-48) 

Ibrahim juga berkata, Sesungguhnya aku pergi menghadap kepada Tuhanku, dan Dia akan memberi petunjuk kepadaku.” (QS. Ash Shâffât[37]:99)
Ibrahim As juga pernah diperintahkan untuk meninggalkan Hajar dan anak satu-satunya yang bernama Ismail di Balad Al Haram (Mekah). Dengan tegar, ia menjunjung tinggi perintah itu dan yakin bahwa Allah tidak akan menyia-nyiakan para kekasih-Nya. Kemudian ia diperintahkan lagi untuk menyembelih anaknya Ismail itu, iapun segera melaksanakan perintah itu.  
Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya). Kami panggillah ia, "Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.” (QS. Ash Shâffât[37]:103-107)

 Ibrahim As juga menghadapi kaumnya dan Namrud serta mengajak mereka kepada Allah. Ia tidak pernah takut dan kebulatan tekadnya tak pernah berubah. 
Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang beriman yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif. Sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Tuhan).”(QS. An Nahl[16]:120)
Allah juga berfirman tentangnya, “Sesungguhnya Ibrahim itu benar-benar seorang yang penyantun lagi penghiba dan suka kembali kepada Allah.” (QS. Hûd[11]:75)
Lihat Nabi Musa As. Ia mengajak Fir’aun yang mengaku sebagai tuhan kepada Allah. Ia berdialog dengan Fir’aun juga berdiskusi dengannya, dan hujjah Nabi Musa-lah yang menang. Namun Fir’aun tidak melepaskan Nabi Musa dan orang-orang yang bersamanya. Bani Israil berkata kepada Nabi Musa, 
Sesungguhnya kita benar-benar akan tersusul". (QS. Asy Syu’arâ[26]:61) Nabi Musa menjawab, “Sekali-kali tidak akan tersusul, sesungguhnya Tuhanku besertaku, kelak Dia akan memberi petunjuk kepadaku". (QS. Asy Syu’arâ[26]:62) 
Sebuah kata-kata yang penuh dengan keyakinan pada janji Allah dan kebersamaan-Nya. Maka, Allah membinasakan Fir’aun dan tentaranya serta mewariskan bumi dan negeri mereka kepada Bani Israil.
Lihat Nabi Ayyub As. Ia diuji dengan penyakit di tubuhnya, namun semua itu tidak pernah memalingkan hatinya dari Allah. Bahkan ia bersikap sabar, mengharap ridha dan selalu mengingat Tuhannya. Firman Allah Swt,
 “Dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika ia menyeru Tuhannya, "(Ya Tuhanku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang". Maka Kamipun memperkenankan seruannya itu, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan Kami lipat gandakan bilangan mereka, sebagai suatu rahmat dari sisi Kami dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Allah.”(QS. Al Anbiyâ’[21]:83-84)
Lihat pula Nabi Yusuf As. Ia berpindah dari ujian di dalam sumur tua ke fitnah dalam istana. Kemudian ia dijerumuskan ke dalam penjara padahal sudah jelas kebenarannya. Lalu ia bebas dari penjara untuk kemudian memegang kekuasaan kerajaan di negeri Mesir. Yusuf adalah sebaik-baik hamba. Ia ridha dengan ketentuan Allah. Fitnah tidak bisa berbuat apa-apa terhadap hamba yang selalu bertawakal dan kembali kepada Allah ini. Ia tidak pernah berkompromi untuk melakukan taat kepada-Nya. Malah ia berkata, 
Wahai Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka.”(QS. Yûsuf[12]:33)
 Kekuasaan pun tidak bisa menyibukkannya dari ketaatan. Hatinya selalu terpaut dengan Allah. Ia berkata, 
Ya Tuhanku, sesungguhnya Engkau telah menganugerahkan kepadaku sebahagian kerajaan dan telah mengajarkan kepadaku sebahagian tabir mimpi. (Ya Tuhan) Pencipta langit dan bumi. Engkaulah Pelindungku di dunia dan di akhirat, wafatkanlah aku dalam keadaan Islam dan gabungkanlah aku dengan orang-orang yang saleh.” (QS. Yûsuf[12]:101)
Lihat pula Nabi Muhammad Saw, pemimpin orang yang terdahulu dan orang yang akan datang serta panutan seluruh makhluk. Manusia yang paling besar mendapatkan pertolongan, taufik dan bimbingan, serta manusia yang benar-benar paling bahagia. Beliau disakiti, tapi malah berdoa, “Wahai Tuhanku, ampunilah kaumku, sebab mereka belum tahu.”(HR. Bukhari) Beliau juga bersabda, “Aku berharap dari keturunan mereka ada orang yang menyembah Allah dan tidak menyekutukan-Nya.”(HR. Muslim)
Di antara bukti sikap pemaaf Nabi Muhammad Saw terhadap orang yang menyakitinya adalah saat Tahun Penaklukan. Beliau bersabda, “Silakan kalian pergi, kalian bebas. Tidak ada celaan atas kalian.” Beliau sering solat malam hingga kedua tumit beliau bengkak. Beliau hanya berkata, “Aku ingin menjadi hamba yang bersyukur.”(HR. Bukhari dan Muslim) Padahal kita tahu bahwa beliau telah mendapatkan jaminan pengampunan terhadap dosa yang telah lalu dan yang akan datang. Setiap kali ada perkara yang mengusiknya, beliau bersabda, “Hai Bilal, serukan untuk mendirikan solat, senangkan kami dengan seruan itu.” (HR. Abu Daud) Beliau juga bersabda, “Dijadikan kesejukan hatiku di dalam solat.”(HR. An Nasa’i dan Ahmad)
Semua perkataan Nabi Muhammad Saw dan perbuatannya merupakan panutan semua orang yang bahagia. 
Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al Ahzâb[33]:21)

ORANG-ORANG BAHAGIA BERJALAN DI LORONG YANG SAMA

Orang yang disebutkan dalam surah Yâsin datang dari ujung kota. Ia ingin memperbaharui dakwah para rasul. Ia telah menyaksikan sendiri kebinasaan orang-orang yang kafir. Ia berkata, 
Hai kaumku, ikutilah utusan-utusan itu. Ikutilah orang yang tiada minta balasan kepadamu; dan mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk. Mengapa aku tidak menyembah (Tuhan) yang telah menciptakanku dan yang hanya kepada-Nya-lah kamu (semua) akan dikembalikan? Mengapa aku akan menyembah tuhan-tuhan selain-Nya jika (Allah) Yang Maha Pemurah menghendaki kemudharatan terhadapku, niscaya syafaat mereka tidak memberi manfaat sedikitpun bagi diriku dan mereka tidak (pula) dapat menyelamatkanku? Sesungguhnya aku kalau begitu pasti berada dalam kesesatan yang nyata. Sesungguhnya aku telah beriman kepada Tuhanmu; maka dengarkanlah (pengakuan keimanan) ku. Dikatakan (kepadanya), "Masuklah ke surga". Ia berkata, "Alangkah baiknya sekiranya kaumku mengetahui. Apa yang menyebabkan Tuhanku memberi ampun kepadaku dan menjadikan aku termasuk orang-orang yang dimuliakan".(QS. Yâsîn[36]:20-27)

Allah mengazab mereka setelah kematian orang yang disebutkan di dalam surah Yâsîn itu. Allah Swt berfirman,  

Dan kami tidak menurunkan kepada kaumnya sesudah dia (meninggal) suatu pasukanpun dari langit dan tidak layak Kami menurunkannya. Tidak ada siksaan atas mereka melainkan satu teriakan suara saja; maka tiba-tiba mereka semuanya mati. Alangkah besarnya penyesalan terhadap hamba-hamba itu, tiada datang seorang rasulpun kepada mereka melainkan mereka selalu memperolok-olokkannya.”(QS. Yâsîn[36]:28-30)

 Apakah akan bahagia kaum itu dengan kekufuran mereka dan apakah sengsara orang yang disebutkan dalam surah Yâsîn itu dengan ketaatannya kepada Allah?!
Buku-buku tafsir menyebutkan bahwa para penghuni gua atau ashhabul kahfi itu terdiri dari para pemuda yang beriman kepada Allah yang mereka semua adalah anak-anak pembesar kerajaan. Mereka lebih memilih apa yang ada di sisi Allah daripada kesenangan dunia yang semu. Mereka masuk ke sebuah gua yang gelap, menyelamatkan agama mereka. Mereka berkata, 
Kaum kami ini telah menjadikan selain Dia sebagai tuhan-tuhan (untuk disembah). Mengapa mereka tidak mengemukakan alasan yang terang (tentang kepercayaan mereka)? Siapakah yang lebih zalim daripada orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah?”(QS. Al Kahfi[18]:15) 
Saat pelarian mereka, seekor anjing mengikuti mereka, yang menjadi peringatan juga nasehat bahwa siapa yang mengikuti orang-orang saleh, tidak akan pernah celaka.
Allah telah menyebutkan beberapa kemuliaan yang diberikan kepada ashhabul kahfi. Allah Swt berfirman,
 “Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka dan Kami tambah pula untuk mereka petunjuk.” (QS. Al Kahfi[18]:13)
 “Dan kamu akan melihat matahari ketika terbit, condong dari gua mereka ke sebelah kanan, dan bila matahari terbenam menjauhi mereka ke sebelah kiri sedang mereka berada dalam tempat yang luas dalam gua itu.”(QS. Al Kahfi[18]:17) “Maka Kami tutup telinga mereka beberapa tahun dalam gua itu.” (QS. Al Kahfi[18]:11) “Dan mereka tinggal dalam gua mereka tiga ratus tahun dan ditambah sembilan tahun (lagi).” (QS. Al Kahfi[18]:25)
Para pemuda ini bahagia dalam gua yang gelap itu. Kebahagiaan dengan keimanan mereka melebihi hidup di dalam istana, bahkan dunia seperti penjara yang sempit lagi gelap akibat sikap kufur para penduduknya terhadap Sang Pencipta bumi dan langit.
Al Quran juga menyebutkan kisah seorang yang beriman dari keluarga Fir’aun dan dialog seorang mukmin yang fakir dengan saudaranya yang kafir, pemilik dua kebun yang tersebut dalam surah Al Kahfi.
Rasulullah Saw pernah mengisahkan tentang seorang hamba Allah, yakni budak kecil yang diserahkan oleh raja kepada seorang penyihir untuk belajar sihir, tapi ia malah pergi kepada seorang rahib. Rasulullah Saw mengisahkan bagaimana budak kecil itu menerima seruan dakwah dan mendapatkan beberapa karomah atau kemuliaan walaupun umurnya masih sangat muda. Bagaimana kematiannya yang memang sudah diinginkan oleh raja menjadi bukti kemuliaan, yakni ketika panah menancap di keningnya, tiba-tiba manusia yang hadir menuturkan “kami beriman kepada Allah, Tuhan anak kecil ini.” Saat itu, panah tadi jatuh ke tangan raja yang zalim tersebut. Ada yang berkata kepada raja, “Sungguh telah terjadi apa yang kau takutkan. Sungguh, semua manusia telah beriman.” Raja tersebut memerintahkan untuk membuat lubang panjang lalu dinyalakan api di dalamnya. Setelah api menyala, semua yang beriman dimasukkan ke dalam lubang itu. 
 Mereka tidak menyiksa orang-orang mukmin itu melainkan karena orang-orang mukmin itu beriman kepada Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji.” (QS. Al Burûj[85]:8) 

Begitulah sikap kebatilan di setiap masa dan saat. Tidak memiliki apa-apa kecuali kekerasan tanpa alasan yang rasional.
Jasad budak kecil itu ditemukan di zaman Umar Bin Khatthab Ra. Tangannya masih memegang kening seperti saat kematiannya –jasad ini ditemukan setelah beratus-ratus tahun sejak kejadian-. Setiap kali para penemu menggerakkan tangannya, darah mengucur dari luka di keningnya. -Orang-orang seperti ini adalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan dapat membuat hati bahagia dengan mengingat mereka-. Inilah kehidupan hakiki itu.
Di lorong ini pula, para sahabat Ra berjalan. Mereka bahagia dan membuat dunia bahagia. Dengan mereka, Allah mengubah wajah dunia. Mereka dapat merasakan manisnya iman ketika mereka ridha dengan Allah sebagai Tuhan, Islam sebagai agama dan Muhammad sebagai rasul. Di antara para sahabat itu adalah Abu Bakar Ra. Teman setia –tidak ada seorang nabi pun yang mempunyai teman setia seperti ini- dan orang yang menyedekahkan seluruh hartanya. Ketika Abu Bakar ditanya “apa yang ia sisakan untuk anak-anaknya?”, ia menjawab, “Aku sisakan Allah dan Rasul-Nya untuk mereka.” Ia adalah seorang yang ridha dan diridhai.
Anas Ra meriwayatkan, “Pada perang Badar, pamanku Anas Bin An Nadhr tidak ikut perang. Ia berkata kepada Rasulullah Saw, “Wahai Rasulullah, aku tidak hadir sejak awal peperangan melawan kaum musyrikin. Seandainya Allah mengizinkanku untuk ikut dalam perang melawan kaum musyrikin, aku akan memperlihatkan kepada-Nya apa yang bisa kulakukan.” Ketika terjadi perang Uhud, iapun berkata, “Ya Allah, aku punya alasan untuk apa para sahabat melakukan ini dan aku tidak bertanggung jawab dengan apa yang dilakukan oleh kaum musyrikin.” Kemudian ia terjun ke kancah peperangan dan bertemu dengan Sa’ad Bin Mu’adz. Ia berkata, “Hai Sa’ad, demi Tuhan Nadhr, aku telah mencium bau surga di balik gunung Uhud itu.”
Sa’ad berkata, “Ya Rasulullah, aku tidak bisa melakukan seperti apa yang ia lakukan.” Anas berkata, “Ternyata ia telah tewas dengan sangat mengenaskan. Tidak ada yang dapat mengenalinya lagi kecuali saudarinya, dari jari-jarinya.” Anas juga berkata, “Kami berpendapat bahwa ayat berikut turun menyinggung tentangnya dan orang-orang yang sepertinya. Yakni ayat, “Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah, maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka tidak merobah (janjinya).” (QS. Al Ahzâb[33]:23) (HR. Bukhari, Muslim dan Tirmidzi)
Dari Abu Hurairah Ra, ia berkata, “Rasulullah Saw dan para sahabat pergi ke Badar dan mendahului kaum musyrikin. Maka, Rasulullah Saw bersabda, “Bangkitlah kalian menuju surga yang luasnya sebesar langit dan bumi.” Tiba-tiba Umair Bin Hammam berkata, “Hebat!” Mendengar itu, Rasulullah Saw bersabda, “Apa yang membuatmu mengucapkan itu?” Ia menjawab, “Demi Allah, tidak ada ya Rasul kecuali aku berharap dapat menjadi penghuninya.” Rasulullah Saw lalu bersabda, “Kamu salah satu penghuninya, hai Umair.” Saat itu, ia mengeluarkan beberapa kurma dari tempat bekalnya lalu memakannya, namun tiba-tiba ia berkata, “Jika aku masih tetap hidup setelah menghabiskan kurma ini, sungguh itu terlalu lama.” Seketika itu juga, ia membuang kurma yang ada di mulutnya dan terjun ke kancah pertempuran hingga iapun terbunuh.” (HR. Muslim)

Bila kita memperhatikan keadaan manusia dalam solat, haji, zikir dan doa, pasti kita akan mengetahui bahwa hal itu menjadi penyebab kebahagiaan mereka disatu sisi namun di sisi lain penyebab kesusahan dan kesengsaraan bagi orang yang mabuk dengan dunia.
Utsman Bin Affan berkata, “Seandainya hati kalian itu bersih, niscaya tidak akan pernah bosan dengan kalam Allah. Tidak berlalu satu hari pun kecuali ia membaca dan merenungi kitab Allah. Malah ada sebagian dari orang-orang yang hatinya bersih itu berdiri melakukan solat, burung hinggap di atas kepalanya. Burung itu mengiranya sebuah kayu, karena begitu lamanya ia berdiri dalam solat.”
Abu Darda juga pernah menjengung seorang laki-laki yang saat meninggal dunianya mengucap Alhamdulillah (segala puji bagi Allah). Abu Darda berkata, “Kamu benar. Sesungguhnya apabila Allah memutuskan suatu keputusan, Dia sangat suka bila keputusan itu diterima dengan ikhlas.”
Ada beberapa orang yang mengikuti sikap sahabat, beriman kepada Allah dan jujur terhadap para rasul, di antaranya Umar Bin Abdul Aziz. Ia berkata, “Tidak ada kesenangan bagiku kecuali pada apa yang telah ditakdirkan.” Ada yang bertanya kepadanya, “Apa yang kamu sukai?” Ia menjawab, “Apa yang ditentukan oleh Allah Swt.”
Ketika terjadi cobaan pada Imam Ahmad, seorang muridnya yang bernama Abu Sa’id datang menemuinya dan berkata, “Hai Imam, katakan! Sesungguhnya kamu masih mempunyai tanggungan keluarga.” (Maksudnya, murid itu meminta Imam Ahmad untuk membenarkan ucapan bid’ah Al Ma’mun.) Namun Imam Ahmad berkata kepadanya, “Coba kamu lihat ke luar.” Murid itupun melihat keluar dan menemukan begitu banyak manusia sedang berkumpul untuk mencatat apa yang akan dikatakan oleh Imam Ahmad. Setelah menyaksikan itu, ia kembali kepada Imam Ahmad. Imam Ahmad kemudian berkata, “Demi Allah, aku tidak mau menyelamatkan diriku sendiri sementara aku menyebabkan mereka tersesat.” Imam Ahmad tetap tegar dan sabar hingga akhirnya cobaan itu berakhir. Ia memang benar-benar imam ahli sunah.
Diceritakan juga bahwa suatu ketika, ibu Imam Abu Hanifah datang menemuinya dalam penjara. Di sana ia dikurung dan dipukuli. Ibunya berkata, “Hai Nu’man, ilmu tidak memberikan keuntungan apa-apa kepadamu malah pukulan yang kauterima. Sudah saatnya kamu meninggalkannya.” Imam Abu Hanifah menjawab, “Hai ibu, seandainya aku mengharapkan dunia, aku pasti mendapatkannya. Namun aku ingin menjaga ilmu itu. Aku tidak akan menjerumuskan diriku kepada kebinasaan.” Sebab, ilmu itu sebuah kemuliaan. Siapa yang menginginkan dunia dengan ilmu pasti akan ia dapatkan dan siapa yang menginginkan akhirat dengan ilmu, juga pasti akan ia dapatkan.
Syeikh Ibnu Taimiyah pernah berkata di dalam penjara, “Apa yang dilakukan musuh-musuhku kepadaku? Surgaku dan kebunku ada di dadaku. Kemanapun aku pergi, ia selalu bersamaku, tak pernah terpisah dariku. Kurunganku adalah tempat khalwat, kematianku adalah syahid dan terusirnya aku dari negeriku merupakan tamasya bagiku.” Ia sering duduk berzikir kepada Allah setelah solat subuh. Ia berkata, “Itu adalah sarapanku. Jika aku tidak sarapan, aku akan lemas.”
Jika terus bercerita tentang orang-orang yang bahagia, pasti tak akan ada habisnya. Kiranya cukuplah apa yang telah dipaparkan bagi orang yang mempunyai hati atau pendengaran. Ringkasnya, lisan hal orang-orang saleh menuturkan, “Seandainya para raja dan para anak raja mengetahui kenikmatan kami, pasti mereka akan merebutnya dengan tajamnya pedang.”
... bersambung...


 "Kebahagiaan". Suatu kata yang sekaligus menjadi sorotan setiap manusia yang hidup. apa sebenarnya kebahagiaan itu? bagaimana memperoleh kebahagiaan hakiki? dan mengapa setiap orang menginginkan suatu kebahagiaan namun yang didapat adalah hal yang lain? untuk mengetahui jawaban dari setiap pertanyaan yang anda pikirkan, simaklah tulisan dibawah ini!

ARTI KEBAHAGIAAN

Kebahagiaan adalah lawan dari kesengsaraan. Manusia pun terbagi kepada, manusia bahagia dan manusia sengsara. Allah Swt berfirman, “Di kala datang hari itu, tidak ada seorangpun yang berbicara, melainkan dengan izin-Nya; maka di antara mereka ada yang sengsara dan ada yang berbahagia. Adapun  orang-orang yang sengsara, maka (tempatnya) di dalam neraka, di dalamnya mereka mengeluarkan dan menarik nafas (dengan merintih), mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika Tuhanmu menghendaki (yang lain). Sesungguhnya Tuhanmu Maha Pelaksana terhadap apa yang Dia kehendaki. Adapun orang-orang yang berbahagia, maka tempatnya di dalam surga, mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika Tuhanmu menghendaki (yang lain); sebagai karunia yang tiada putus-putusnya.”(QS. Hûd[11]:105-108)
Manusia yang bahagia adalah orang yang bisa mengambil pelajaran dari orang lain dan manusia yang sengsara adalah orang yang merasa sengsara dengan takdir Allah. Ada sebagian orang yang mendefinisikan bahwa kebahagiaan itu adalah ketenangan jiwa dan ketentraman yang dirasakan oleh seorang manusia di suatu waktu. Definisi ini masih ada kekurangannya. Ketenangan jiwa terkadang bisa disebut pada kelezatan sesaat namun berakhir dengan kepedihan abadi. Sedang ketentraman yang dirasakan oleh seorang manusia, terkadang bisa palsu, semu dan cepat hilang, seperti orang yang mengasuransikan masa depannya dengan menyimpan uang di bank-bank konvensional, sebab ia sama saja menjadi musuh Allah dan Rasul-Nya. Sementara berkah hartanya telah dihilangkan dan harta itu tidak akan pernah aman dari kehilangan. Dengan demikian, sama saja ia percaya pada ilusi dan fatamorgana.
Oleh sebab itu, kebahagiaan yang dicari oleh seorang muslim itu lebih umum, lebih konprehensif dan lebih sempurna dari kebahagiaan yang dicari oleh manusia di timur dan di barat, atau yang diceritakan oleh para filosof, pakar sosial dan lain-lain. Kebahagiaan yang dicari oleh seorang muslim itu adalah ridha terhadap Allah dalam situasi senang atau susah, saat bersemangat ataupun saat loyo. Kebahagiaan yang meliputi hati dan jiwa hingga saat fakir dan sakit sekalipun. Kebahagiaan yang menjunjung tinggi perintah Allah adalah merupakan puncak kebahagiaan seorang hamba di dunia dan akhirat. Bagi seorang hamba, tidak ada yang lebih bermanfaat di dunia dan di akhirat daripada menjunjung tinggi perintah Tuhannya. Tidaklah orang yang mendapatkan kebahagiaan di dunia dan di akhirat itu kecuali karena ia menjunjung tinggi perintah Allah dan tidaklah orang yang mendapatkan kesengsaraan di dunia dan di akhirat itu kecuali karena ia menyia-nyiakan perintah-Nya.
Ar Raghib Al Ashfihani berkata dalam bukunya yang berjudul Al Mufradât, “Kebahagiaan adalah bantuan ilahi untuk manusia demi mencapai kebaikan.” Maka, orang yang bahagia adalah orang mukmin yang mendapat taufik untuk melakukan segala kebaikan dan meninggalkan segala kemungkaran. Ia adalah orang yang dikehendaki oleh Allah dalam melakukan taat kepada-Nya, bersikap syukur dalam kesenangan dan bersikap sabar dalam kesusahan. Ia juga tahu bahwa tempat kembali dan tempat mengadu hanya kepada Allah. Maka, hatinya pun penuh dengan ridha terhadap Allah dan hati nuraninya selalu mendorongnya untuk mencari kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Sesungguhnya kebahagiaan hakiki adalah karunia dari Allah yang diberikan kepada orang yang dikehendaki-Nya. Kita tidak akan bisa mendapatkan apa yang ada di sisi Allah kecuali dengan taat kepada-Nya.

 

MERENUNGI NASEHAT ADALAH JALAN MENUJU KEBAHAGIAAN



   




  Dalam bukunya yang berjudul Al Jawâb Al Kâfî Li Man Sa’ala ‘An Ad Dawâ Asy Syâfî, Ibnu Qayyim berkata, “Sebagian ulama berkata, “Aku merenungi apa yang diperbuat oleh orang-orang yang berakal dan aku dapati bahwa semua yang mereka perbuat itu bertujuan mencapai satu tujuan, sekalipun cara mereka berbeda. Aku melihat bahwa mereka bertujuan untuk menolak kesusahan dan kesengsaraan dari mereka. Ada yang dengan makan dan minum, ada juga dengan berniaga dan menulis, ada pula dengan nikah dan mendengarkan nyanyian, serta ada pula dengan hiburan dan permainan.





Aku berkata, “Tujuan ini memang tujuan orang-orang yang berakal, namun cara-cara yang mereka pergunakan tidak akan pernah menyampaikan mereka kepada tujuan, bahkan malah menyampaikan mereka kepada lawannya. Aku tidak melihat dari berbagai macam cara yang dilakukan yang mampu menyampaikan kepada tujuan kecuali dengan cara mendekat kepada Allah, serta mengharap dan mengutamakan ridha-Nya dari segala sesuatu. Sesungguhnya orang yang melakukan cara ini, sekalipun tidak mendapatkan apa-apa di dunia namun ia pasti akan mendapatkan bagian yang amat berharga. Tidak ada yang lebih bermanfaat bagi seorang hamba daripada cara ini dan tidak ada yang lebih menyampaikannya kepada kelezatan, kegembiraan dan kebahagiaan daripadanya. Semoga Allah memberikan taufik-Nya kepada kita.”
Di tempat lain di dalam buku itu juga, Ibnu Qayyim berkata, “Allah telah memutuskan satu keputusan yang tidak akan bisa dirubah selama-lamanya, yaitu, “Akibat baik hanya pada ketakwaan dan ganjaran yang baik hanya untuk orang-orang yang bertakwa. Hati ibarat papan yang masih utuh sedangkan niat dan kata hati ibarat pahat yang memahat papan itu. Apakah pantas seorang yang berakal membiarkan papan hati dipahat oleh dusta, tipu daya dan angan-angan belaka serta fatamorgana yang tak hakiki. Kebijaksanaan, ilmu dan petunjuk mana yang selaras dengan pahatan ini?”
Dalam tafsir firman Allah, “Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa. Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan (dalam kehidupan} di akhirat. Tidak ada perubahan bagi kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Yang demikian itu adalah kemenangan yang besar” (QS. Yûnus[10]:62-64), Ibnu Qayyim berkata, “Seorang mukmin yang ikhlas hanya kepada Allah termasuk orang yang paling baik kehidupannya, paling baik keadaannya, dan paling lapang dadanya serta paling gembira hatinya. Ini merupakan surga dunia sebelum ia mendapatkan surga akhirat.”
Ibnu Qayyim juga berkata, “Jangan kamu kira bahwa firman Allah Swt yang berbunyi, “Sesungguhnya orang-orang yang banyak berbakti benar-benar berada dalam surga yang penuh kenikmatan, dan sesungguhnya orang-orang yang durhaka benar-benar berada dalam neraka” (QS. Al Infithâr[82]:13-14), hanya tertentu pada kenikmatan dan neraka akhirat saja, tapi juga ada di tiga fase kehidupan manusia, yaitu, di dunia, di alam barzakh dan di surga. Bukankah kenikmatan hakiki itu adalah kenikmatan di hati dan bukankah azab hakiki itu adalah azab di hati? Azab mana yang paling hebat dari ketakutan, kegundahan, kesedihan, kesempitan, berpaling dari Allah, melupakan hari akhir, bergantung pada selain Allah dan putus hubungan dengan-Nya. Allah Swt berfirman, “Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama'ah hamba-hamba-Ku, masuklah ke dalam surga-Ku.” (QS. Al Fajr[89]:27-30)
Ibnu Qayyim berkata lagi, “Sebaik-baik apa yang ada di dalam dunia adalah mengenal-Nya dan mencintai-Nya. Paling lezat apa yang ada di dalam dunia adalah melihat-Nya dan menyaksikan-Nya. Mencintai-Nya dan mengenal-Nya adalah penyejuk mata, kelezatan jiwa, kebahagiaan hati dan kenikmatan dunia dan kesenangannya. Bahkan kelezatan dunia tanpa cinta dan mengenal-Nya dapat berubah menjadi kepedihan dan siksa, serta kehidupan tetap terasa sempit. Maka, tidak ada kehidupan yang lebih baik kecuali dengan ridha Allah Swt.”
Ibnu Qayyim juga berkata, “Tidak ada sesuatu pun yang lebih bermanfaat bagi seorang hamba daripada menghadap kepada Allah, sibuk menyebut-Nya dan merasakan kenikmatan cinta-Nya serta mengutamakan ridha-Nya, bahkan tidak ada satupun kehidupan dan kenikmatan tanpa ridha-Nya, tidak ada kegembiraan juga tidak ada kesenangan kecuali dengan ridha-Nya.”
Ibnu Qayyim juga berkata, “Orang-orang yang berbakti selalu dalam kenikmatan, sekalipun kehidupan mereka susah dan dunia bagi mereka terasa menghimpit. Sedangkan orang-orang fasik selalu dalam neraka (azab), sekalipun dunia terasa luas bagi mereka. Allah Swt berfirman, “Barang siapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. An Nahl[16]:97)
Dalam tafsir ayat, “Dan  barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat  dalam keadaan buta" (QS. Thâhâ[20]:124), kehidupan sempit itu ada yang mengartikan dengan azab kubur. Memang tidak ada yang meragukan bahwa azab kubur itu adalah kehidupan yang sempit. Lafal dalam ayat itu mencakup apa yang lebih umum, sebab bentuk lafalnya nakirah (tidak jelas).
Sebenarnya, walaupun orang yang berpaling dari peringatan Allah itu hidup dalam berbagai kenikmatan di dunia, namun di dalam hatinya penuh dengan kegelisahan, kehinaan dan kerugian akibat dari angan-angan dan azab. Namun itu semua tertutup oleh gelombang syahwat dan mabuk cinta dunia atau kepemimpinan, sekalipun tidak mabuk karena minuman. Mabuk seperti ini lebih dahsyat dari mabuk karena minuman keras. Mabuk karena minuman bisa saja membuat pelakunya sadar, sedangkan mabuk karena hawa nafsu dan cinta dunia tidak akan dapat menyadarkan pelakunya kecuali ketika dia sudah berada di antara tentara kematian. Kehidupan yang sempit pasti terjadi pada orang yang berpaling dari peringatan Allah yang telah menurunkan peringatan itu lewat Rasulullah Saw, baik di dunia, di alam barzakh maupun di hari kiamat nanti. Matanya tak akan pernah sejuk, hatinya tak akan pernah tenang dan jiwanya tak akan pernah tentram kecuali dengan izin Tuhannya dan Dzat yang layak untuk disembahnya. Setiap sesembahan selain Allah adalah batil.
Siapa yang matanya sejuk dengan Allah, pasti semua mata akan sejuk dengannya dan siapa yang matanya tidak pernah sejuk dengan Allah, pasti jiwanya akan merasakan kekeringan. Sesungguhnya Allah menciptakan kehidupan yang baik hanya untuk orang-orang yang beriman dengan-Nya dan beramal saleh, sebagaimana firman-Nya, “Barang siapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. An Nahl[16]:97)
Orang yang beriman dan beramal saleh pasti mendapatkan balasan di dunia dengan kehidupan yang baik dan mendapatkan surga di akhirat kelak. Mereka mendapatkan dua kehidupan yang baik dan mereka akan tetap hidup di dua negeri itu.”

...Bersambung...

Translate

Wheather Forecast

Monster Drift

Welcome to My Blog

Aqua Clock

Popular Post

Diberdayakan oleh Blogger.

AT-TAUHID

AT-TAUHID
syahadah

- Copyright © YONAS SYABAB'S INFORMATION CENTER -Robotic Notes- Powered by Blogger - Designed by Yonas Septiyan -