A. Rangkaian
Penyearah (Rectifier Circuit)
Sebagian
besar rangkaian elektronika membutuhkan tegangan DC untuk dapat bekerja dengan
baik. Karena tegangan jala-jala adalah tegangan AC, maka yang harus dilakukan
terlebih dahulu dalam setiap peralatan elektronika adalah mengubah atau menyearahkan
(rectifying) tegangan AC ke DC. Pada
umumnya, tegangan AC didekati dengan sinyal gelombang sinus, seperti tampak
pada Gambar 4.1. Secara matematika, gelombang sinus dinyatakan oleh:
v = Vp
sin
(t+θ) (4.1)
dimana
v = tegangan sesaat
Vp = tegangan puncak
θ = sudut dalam derajat atau radian
Gambar
4.1 Gelombang Sinus
Beberapa
peralatan elektronika mengandung sebuah transformator seperti tampak pada
Gambar 4.2 untuk menaikkan atau menurunkan tegangan jala-jala. Besarnya
penaikkan atau penurunan tegangan sebanding dengan rasio jumlah lilitan pada
bagian primer dengan jumlah lilitan sekunder. Untuk memudahkan pemahaman berikutnya,
perbandingan ini tidak dibahas lebih lanjut. Sebagai gantinya, hanya tegangan
sekunder yang diberikan.
Gambar
4.2 Transformator
B. Rangkaian
Penyerarah Setengah Gelombang
Gambar
4.3 memperlihatkan rangkaian yang disebut penyearah setengah gelombang (half wave rectifier). Pada setengah siklus tegangan sekunder
yang positif, dioda mengalami forward
biased untuk
setiap tegangan yang lebih dari 0.7 volt (tegangan offset). Ini menghasilkan
tegangan lintas tahanan beban (RL)
yang mendekati bentuk setengah gelombang sinus. Pada setengah siklus negatif, diode
mengalami reverse biased, yang menyebabkan
arus beban menjadi nol dan tegangan beban jatuh menjadi nol.
Gambar
4.3 Rangkaian Penyerah Setengah Gelombang
Jika
digunakan pendekatan dioda ideal, puncak tegangan yang disearahkan sama dengan
puncak tegangan sekunder, seperti ditunjukkan pada Gambar 4.4(a). Sedangkan,
jika digunakan pendekatan dioda offset, puncak tegangan yang disearahkan
memiliki tegangan puncak keluaran yang lebih rendah dari tegangan puncak
masukan, seperti tampak pada Gambar 4.4(b).
(a)
(b)
Gambar
4.4 Tegangan Masukan dan Keluaran Penyerah Setengah Gelombang
(a)
Pendekatan
Dioda Ideal dan (b) Pendekatan Dioda Offset
C. Rangkaian
Penyearah Gelombang Penuh dengan Center Tap Trafo
Nampak
dari gambar diatas, bahwa penyearah setengah gelombang, belum menghasilkan
tegangan DC yang baik. Oleh karena itu, diupayakan cara-cara lain untuk
mendapatkan tegangan DC yang lebih baik. Gambar 4.5 menunjukkan sebuah
rangkaian penyearah gelombang penuh dengan menggunakan Center Tap Trafo. Selama setengah siklus tegangan sekunder yang
positif, dioda yang atas mengalami forward
biased dan
dioda yang bawah mengalami reverse
biased.
Sehingga, arus mengalir melalui dioda yang atas, ke tahanan beban, dan setengah
belitan yang atas. Sebaliknya, selama setengah siklus tegangan sekunder yang
negatif, arus akan mengalir melalui dioda yang bawah, ketahanan beban l, dan
setengah belitan yang bawah.
Gambar
4.5 Rangkaian Penyearah Gelombang Penuh dengan Center Tap Trafo
Dalam
kedua siklus diatas, tahanan beban mendapatkan polaritas yang sama, tanpa
memperhatikan dioda mana yang konduksi. Sehingga, tegangan keluaran pada beban
berbentuk sinyal gelombang penuh yang disearahkan seperti terlihat pada Gambar
4.6.
(a)
(b)
(c)
Gambar
4.6 Penyearah Gelombang Penuh
Center Tap Trafo: (a)
Proses Penyearahan
(b) Pendekatan Dioda
Ideal dan (c) Pendekatan Dioda Offset
D. Rangkaian
Penyearah Gelombang Penuh dengan Dioda Jembatan
Pada
saat ini, penyearah gelombang penuh dengan Center
Tap Trafo,
tidak umum digunakan. Penyerah gelombang penuh yang paling terkenal ialah
penyearah jembatan (bridge rectifier). Gambar 4.7
menunjukkan rangkaian dan proses penyearah jembatan. Selama setengah siklus
tegangan sekunder yang positif, dioda kanan atas dan dioda kiri bawah di-forward biased, sehingga tegangan beban mempunyai polaritas
yang searah. Selama setengah siklus negatif, dioda kiri atas dan dioda kanan bawah
yang forward biased, sehingga tahanan
beban juga memiliki polaritas yang sama dengan sebelumnya. Secara bentuk,
tegangan masukan dan keluaran penyearah gelombang penuh dengan menggunakan bridge dioda sama dengan menggunakan center tap trafo.
Gambar
4.7 Rangkaian dan Proses Penyearah Gelombang Penuh dengan bridge
Dioda
E. Rangkaian
Penyearah dengan Filter Kapasitor
Keluaran
penyearah rata-rata adalah tegangan DC yang memiliki denyut (ripple). Untuk mengubah denyut ini ke tegangan DC yang tetap,
dibutuhkan sebuah penapis (filter). Gambar 4.8
memperlihatkan rangkain penyearah setengah gelombang dengan penapis menggunakan
Kapasitor.
Gambar
4.8 Rangkain Penyearah Setengah Gelombang dengan Filter Kapasitor
Selama
seperempat siklus pertama dari tegangan sumber, dioda di-forward biased. Pada saat itu, dioda menghubungkan sumber
langsung melintas kapasitor, sehingga kapasitor diisi sampai tengangan puncak.
Namun, setelah melewati puncak positif, dioda berhenti konduksi. Pada keadaan
ini, kapasitor membuang muatannya melalui resistansi beban. Dengan rancangan
yang baik, tetapan waktu pembuangan (tRC)
dapat dibuat jauh lebih besar daripada perioda T sinyal
masuk. Oleh karena itu, kapasitor hanya kehilangan sebagian besar kecil
muatannya. Kemudian, pada saat tegangan sumber mencapai puncaknya kembali,
dioda menghantar sebentar dan mengisi kapasitor kembali sampai tegangan
puncaknya. Proses ini digambarkan pada Gambar 4.9.
(a)
(b)
Gambar
4.9 Penapisan sinyal DC menggunakan kapasitor (a) Proses dan
(c)
Detail
Hasil Pemfilteran
Hal
ini juga terjadi pada rangkaian penyearah gelombang penuh dengan diode bridge, sebagaimana tampak pada Gambar 4.10.
(a)
(b)
Gambar
4.10 Rangkaian Penyearah Dioda Bridge dengan penapis kapasitor
Gambar
4.11 Keluaran Tegangan DC
Penyearah berfungsi untuk mengubah tegangan
AC menjadi tegangan DC. Penyearah ada 2 macam, yaitu penyearah setengah
gelombang dan penyearah gelombang penuh.
F. Rumus Tegangan Penyearah Setengah Gelombang:
Nilai
tegangan puncak input transformator:
VRMS=Vmax /√2
VRMS=0,707 X
Vmax
Tegangan
rata-rata DC pada penyearah setengah gelombang adalah:
VDC=Vmax / π
VDC=0,318 x Vmax
Frekuensi
output:
fout = fin
Tegangan
Maksimal DC pada penyearah setengah gelombang adalah:
Vmax = 2.Vpp
G. Rumus Tegangan Penyearah Gelombang Penuh:
Tegangan
rata-rata DC pada penyearah sinyal gelombang penuh:
VRMS=Vmax /√2
VRMS=0,707 X
Vmax
Frekuensi
output:
fout = 2.fin
“Sekian Terima kasih”
~Selamat Belajar~
Source : Makalah DIODA SEMESTER III
Yonas Post : Mencapai Kebahagiaan Hakiki (Said Abdul 'Azhim) 2
Minggu, 28 April 2013
Posted by Unknown
TAULADAN ORANG-ORANG BAHAGIA
Seperti
yang kita ketahui bahwa para nabi dan para rasul adalah makhluk yang paling
besar kebahagiaannya, sebab mereka adalah orang yang paling besar ridhanya
dengan Allah, paling besar ketaatannya kepada Allah, paling besar
kepercayaannya dengan janji Allah, paling besar jihadnya di jalan Allah, dan
paling rajin melaksanakan perintah Allah
siang dan malam, dalam waktu senang ataupun susah. Oleh karena itu, Allah
memerintahkan kita untuk meniru dan mengikuti mereka. Allah Swt berfirman,
“Mereka
itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah, maka ikutilah
petunjuk mereka.” (QS. Al An’âm[6]:90)
Lihat Nabi
Nuh As. Ia menemui kaumnya dan menyampaikan perintah Tuhannya. Namun, kaumnya
menyakitinya bahkan sampai membuatnya pingsan. Ketika ia siuman, ia berkata
kepada mereka,
“Hai kaumku, sembahlah oleh kamu Allah, (karena) sekali-kali
tidak ada Tuhan bagimu selain Dia.” (QS. Al Mukminûn[23]:23)
Kaumnya
juga pernah melukainya hingga darahnya mengucur deras, padahal ia mendoakan
mereka, “Wahai Tuhanku, ampunilah kaumku, sebab mereka tidak tahu.” Nabi Nuh As
tinggal bersama mereka selama 950 tahun, namun sampai akhir hayatnya, yang
beriman kepadanya hanya segelintir orang saja. Ia mengadu kepada Tuhannya,
"Aku ini adalah orang yang dikalahkan, oleh sebab itu menangkanlah (aku).”
(QS. Al Qamar[54]:10)
Maka Allah pun menyejukkan hatinya dan menolongnya. Tidak
ada yang selamat dari air bah kecuali orang yang naik ke atas kapal.
Lihat Nabi
Ibrahim As. Ia memperingatkan dan mengancam bapaknya dengan lembut. Ia berkata,
“Semoga keselamatan dilimpahkan kepadamu, aku akan memintakan ampun bagimu
kepada Tuhanku. Sesungguhnya Dia sangat baik kepadaku. Aku akan menjauhkan diri
darimu dan dari apa yang kamu seru selain Allah, dan aku akan berdo'a kepada
Tuhanku, mudah-mudahan aku tidak akan kecewa dengan berdo'a kepada Tuhanku.”(QS.
Maryam[19]:47-48)
Ibrahim juga berkata, “Sesungguhnya aku pergi menghadap
kepada Tuhanku, dan Dia akan memberi petunjuk kepadaku.” (QS. Ash
Shâffât[37]:99)
Ibrahim As
juga pernah diperintahkan untuk meninggalkan Hajar dan anak satu-satunya yang
bernama Ismail di Balad Al Haram (Mekah). Dengan tegar, ia menjunjung
tinggi perintah itu dan yakin bahwa Allah tidak akan menyia-nyiakan para
kekasih-Nya. Kemudian ia diperintahkan lagi untuk menyembelih anaknya Ismail itu,
iapun segera melaksanakan perintah itu.
“Tatkala keduanya telah berserah
diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran
keduanya). Kami panggillah ia, "Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah
membenarkan mimpi itu sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada
orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian
yang nyata. Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.”
(QS. Ash Shâffât[37]:103-107)
Ibrahim As juga menghadapi kaumnya dan Namrud
serta mengajak mereka kepada Allah. Ia tidak pernah takut dan kebulatan
tekadnya tak pernah berubah.
“Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang beriman
yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif. Sekali-kali
bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Tuhan).”(QS. An
Nahl[16]:120)
Allah juga
berfirman tentangnya, “Sesungguhnya Ibrahim itu benar-benar seorang yang
penyantun lagi penghiba dan suka kembali kepada Allah.” (QS. Hûd[11]:75)
Lihat Nabi
Musa As. Ia mengajak Fir’aun yang mengaku sebagai tuhan kepada Allah. Ia
berdialog dengan Fir’aun juga berdiskusi dengannya, dan hujjah Nabi Musa-lah
yang menang. Namun Fir’aun tidak melepaskan Nabi Musa dan orang-orang yang
bersamanya. Bani Israil berkata kepada Nabi Musa,
“Sesungguhnya kita
benar-benar akan tersusul". (QS. Asy Syu’arâ[26]:61) Nabi Musa
menjawab, “Sekali-kali tidak akan tersusul, sesungguhnya Tuhanku besertaku,
kelak Dia akan memberi petunjuk kepadaku". (QS. Asy Syu’arâ[26]:62)
Sebuah kata-kata yang penuh dengan keyakinan pada janji Allah dan
kebersamaan-Nya. Maka, Allah membinasakan Fir’aun dan tentaranya serta
mewariskan bumi dan negeri mereka kepada Bani Israil.
Lihat Nabi
Ayyub As. Ia diuji dengan penyakit di tubuhnya, namun semua itu tidak pernah
memalingkan hatinya dari Allah. Bahkan ia bersikap sabar, mengharap ridha dan
selalu mengingat Tuhannya. Firman Allah Swt,
“Dan (ingatlah kisah) Ayub,
ketika ia menyeru Tuhannya, "(Ya Tuhanku), sesungguhnya aku telah ditimpa
penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang".
Maka Kamipun memperkenankan seruannya itu, lalu Kami lenyapkan penyakit yang
ada padanya dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan Kami lipat gandakan
bilangan mereka, sebagai suatu rahmat dari sisi Kami dan untuk menjadi peringatan
bagi semua yang menyembah Allah.”(QS. Al Anbiyâ’[21]:83-84)
Lihat pula
Nabi Yusuf As. Ia berpindah dari ujian di dalam sumur tua ke fitnah dalam
istana. Kemudian ia dijerumuskan ke dalam penjara padahal sudah jelas
kebenarannya. Lalu ia bebas dari penjara untuk kemudian memegang kekuasaan
kerajaan di negeri Mesir. Yusuf adalah sebaik-baik hamba. Ia ridha dengan
ketentuan Allah. Fitnah tidak bisa berbuat apa-apa terhadap hamba yang selalu
bertawakal dan kembali kepada Allah ini. Ia tidak pernah berkompromi untuk
melakukan taat kepada-Nya. Malah ia berkata,
“Wahai Tuhanku, penjara lebih
aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka.”(QS. Yûsuf[12]:33)
Kekuasaan pun tidak bisa menyibukkannya dari
ketaatan. Hatinya selalu terpaut dengan Allah. Ia berkata,
“Ya Tuhanku,
sesungguhnya Engkau telah menganugerahkan kepadaku sebahagian kerajaan dan
telah mengajarkan kepadaku sebahagian tabir mimpi. (Ya Tuhan) Pencipta langit
dan bumi. Engkaulah Pelindungku di dunia dan di akhirat, wafatkanlah aku dalam
keadaan Islam dan gabungkanlah aku dengan orang-orang yang saleh.” (QS.
Yûsuf[12]:101)
Lihat pula
Nabi Muhammad Saw, pemimpin orang yang terdahulu dan orang yang akan datang
serta panutan seluruh makhluk. Manusia yang paling besar mendapatkan
pertolongan, taufik dan bimbingan, serta manusia yang benar-benar paling
bahagia. Beliau disakiti, tapi malah berdoa, “Wahai Tuhanku, ampunilah kaumku,
sebab mereka belum tahu.”(HR. Bukhari) Beliau juga bersabda, “Aku berharap dari
keturunan mereka ada orang yang menyembah Allah dan tidak
menyekutukan-Nya.”(HR. Muslim)
Di antara
bukti sikap pemaaf Nabi Muhammad Saw terhadap orang yang menyakitinya adalah
saat Tahun Penaklukan. Beliau bersabda, “Silakan kalian pergi, kalian bebas.
Tidak ada celaan atas kalian.” Beliau sering solat malam hingga kedua tumit
beliau bengkak. Beliau hanya berkata, “Aku ingin menjadi hamba yang
bersyukur.”(HR. Bukhari dan Muslim) Padahal kita tahu bahwa beliau telah
mendapatkan jaminan pengampunan terhadap dosa yang telah lalu dan yang akan
datang. Setiap kali ada perkara yang mengusiknya, beliau bersabda, “Hai Bilal,
serukan untuk mendirikan solat, senangkan kami dengan seruan itu.” (HR. Abu
Daud) Beliau juga bersabda, “Dijadikan kesejukan hatiku di dalam solat.”(HR. An
Nasa’i dan Ahmad)
Semua
perkataan Nabi Muhammad Saw dan perbuatannya merupakan panutan semua orang yang
bahagia.
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang
baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan)
hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al Ahzâb[33]:21)
ORANG-ORANG BAHAGIA BERJALAN DI LORONG YANG SAMA
Orang
yang disebutkan dalam surah Yâsin datang dari ujung kota. Ia ingin
memperbaharui dakwah para rasul. Ia telah menyaksikan sendiri kebinasaan
orang-orang yang kafir. Ia berkata,
“Hai kaumku, ikutilah utusan-utusan itu.
Ikutilah orang yang tiada minta balasan kepadamu; dan mereka adalah orang-orang
yang mendapat petunjuk. Mengapa aku tidak menyembah (Tuhan) yang telah
menciptakanku dan yang hanya kepada-Nya-lah kamu (semua) akan dikembalikan? Mengapa
aku akan menyembah tuhan-tuhan selain-Nya jika (Allah) Yang Maha Pemurah
menghendaki kemudharatan terhadapku, niscaya syafaat mereka tidak memberi
manfaat sedikitpun bagi diriku dan mereka tidak (pula) dapat menyelamatkanku? Sesungguhnya
aku kalau begitu pasti berada dalam kesesatan yang nyata. Sesungguhnya aku
telah beriman kepada Tuhanmu; maka dengarkanlah (pengakuan keimanan) ku. Dikatakan
(kepadanya), "Masuklah ke surga". Ia berkata, "Alangkah baiknya
sekiranya kaumku mengetahui. Apa yang menyebabkan Tuhanku memberi ampun
kepadaku dan menjadikan aku termasuk orang-orang yang dimuliakan".(QS.
Yâsîn[36]:20-27)
Allah
mengazab mereka setelah kematian orang yang disebutkan di dalam surah Yâsîn
itu. Allah Swt berfirman,
“Dan kami tidak menurunkan kepada kaumnya sesudah
dia (meninggal) suatu pasukanpun dari langit dan tidak layak Kami
menurunkannya. Tidak ada siksaan atas mereka melainkan satu teriakan suara
saja; maka tiba-tiba mereka semuanya mati. Alangkah besarnya penyesalan
terhadap hamba-hamba itu, tiada datang seorang rasulpun kepada mereka melainkan
mereka selalu memperolok-olokkannya.”(QS. Yâsîn[36]:28-30)
Apakah akan bahagia kaum itu dengan kekufuran
mereka dan apakah sengsara orang yang disebutkan dalam surah Yâsîn itu dengan
ketaatannya kepada Allah?!
Buku-buku
tafsir menyebutkan bahwa para penghuni gua atau ashhabul kahfi itu
terdiri dari para pemuda yang beriman kepada Allah yang mereka semua adalah
anak-anak pembesar kerajaan. Mereka lebih memilih apa yang ada di sisi Allah
daripada kesenangan dunia yang semu. Mereka masuk ke sebuah gua yang gelap,
menyelamatkan agama mereka. Mereka berkata,
“Kaum kami ini telah menjadikan
selain Dia sebagai tuhan-tuhan (untuk disembah). Mengapa mereka tidak
mengemukakan alasan yang terang (tentang kepercayaan mereka)? Siapakah yang
lebih zalim daripada orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah?”(QS.
Al Kahfi[18]:15)
Saat pelarian mereka, seekor anjing mengikuti mereka, yang
menjadi peringatan juga nasehat bahwa siapa yang mengikuti orang-orang saleh,
tidak akan pernah celaka.
Allah telah
menyebutkan beberapa kemuliaan yang diberikan kepada ashhabul kahfi.
Allah Swt berfirman,
“Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman
kepada Tuhan mereka dan Kami tambah pula untuk mereka petunjuk.” (QS. Al
Kahfi[18]:13)
“Dan kamu akan melihat matahari ketika terbit,
condong dari gua mereka ke sebelah kanan, dan bila matahari terbenam menjauhi mereka
ke sebelah kiri sedang mereka berada dalam tempat yang luas dalam gua itu.”(QS.
Al Kahfi[18]:17) “Maka Kami tutup telinga mereka beberapa tahun dalam gua itu.”
(QS. Al Kahfi[18]:11) “Dan mereka tinggal dalam gua mereka tiga ratus tahun dan
ditambah sembilan tahun (lagi).” (QS. Al Kahfi[18]:25)
Para
pemuda ini bahagia dalam gua yang gelap itu. Kebahagiaan dengan keimanan mereka
melebihi hidup di dalam istana, bahkan dunia seperti penjara yang sempit lagi
gelap akibat sikap kufur para penduduknya terhadap Sang Pencipta bumi dan
langit.
Al Quran
juga menyebutkan kisah seorang yang beriman dari keluarga Fir’aun dan dialog
seorang mukmin yang fakir dengan saudaranya yang kafir, pemilik dua kebun yang
tersebut dalam surah Al Kahfi.
Rasulullah
Saw pernah mengisahkan tentang seorang hamba Allah, yakni budak kecil yang
diserahkan oleh raja kepada seorang penyihir untuk belajar sihir, tapi ia malah
pergi kepada seorang rahib. Rasulullah Saw mengisahkan bagaimana budak kecil
itu menerima seruan dakwah dan mendapatkan beberapa karomah atau kemuliaan
walaupun umurnya masih sangat muda. Bagaimana kematiannya yang memang sudah
diinginkan oleh raja menjadi bukti kemuliaan, yakni ketika panah menancap di
keningnya, tiba-tiba manusia yang hadir menuturkan “kami beriman kepada Allah,
Tuhan anak kecil ini.” Saat itu, panah tadi jatuh ke tangan raja yang zalim
tersebut. Ada yang berkata kepada raja, “Sungguh telah terjadi apa yang kau
takutkan. Sungguh, semua manusia telah beriman.” Raja tersebut memerintahkan
untuk membuat lubang panjang lalu dinyalakan api di dalamnya. Setelah api
menyala, semua yang beriman dimasukkan ke dalam lubang itu.
“Mereka tidak
menyiksa orang-orang mukmin itu melainkan karena orang-orang mukmin itu beriman
kepada Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji.” (QS. Al Burûj[85]:8)
Begitulah sikap kebatilan di setiap masa dan saat. Tidak memiliki apa-apa
kecuali kekerasan tanpa alasan yang rasional.
Jasad
budak kecil itu ditemukan di zaman Umar Bin Khatthab Ra. Tangannya masih
memegang kening seperti saat kematiannya –jasad ini ditemukan setelah
beratus-ratus tahun sejak kejadian-. Setiap kali para penemu menggerakkan
tangannya, darah mengucur dari luka di keningnya. -Orang-orang seperti ini
adalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan dapat membuat hati bahagia
dengan mengingat mereka-. Inilah kehidupan hakiki itu.
Di lorong
ini pula, para sahabat Ra berjalan. Mereka bahagia dan membuat dunia bahagia.
Dengan mereka, Allah mengubah wajah dunia. Mereka dapat merasakan manisnya iman
ketika mereka ridha dengan Allah sebagai Tuhan, Islam sebagai agama dan
Muhammad sebagai rasul. Di antara para sahabat itu adalah Abu Bakar Ra. Teman
setia –tidak ada seorang nabi pun yang mempunyai teman setia seperti ini- dan
orang yang menyedekahkan seluruh hartanya. Ketika Abu Bakar ditanya “apa yang
ia sisakan untuk anak-anaknya?”, ia menjawab, “Aku sisakan Allah dan Rasul-Nya
untuk mereka.” Ia adalah seorang yang ridha dan diridhai.
Anas Ra
meriwayatkan, “Pada perang Badar, pamanku Anas Bin An Nadhr tidak ikut perang.
Ia berkata kepada Rasulullah Saw, “Wahai Rasulullah, aku tidak hadir sejak awal
peperangan melawan kaum musyrikin. Seandainya Allah mengizinkanku untuk ikut
dalam perang melawan kaum musyrikin, aku akan memperlihatkan kepada-Nya apa
yang bisa kulakukan.” Ketika terjadi perang Uhud, iapun berkata, “Ya Allah, aku
punya alasan untuk apa para sahabat melakukan ini dan aku tidak bertanggung
jawab dengan apa yang dilakukan oleh kaum musyrikin.” Kemudian ia terjun ke
kancah peperangan dan bertemu dengan Sa’ad Bin Mu’adz. Ia berkata, “Hai Sa’ad,
demi Tuhan Nadhr, aku telah mencium bau surga di balik gunung Uhud itu.”
Sa’ad
berkata, “Ya Rasulullah, aku tidak bisa melakukan seperti apa yang ia lakukan.”
Anas berkata, “Ternyata ia telah tewas dengan sangat mengenaskan. Tidak ada
yang dapat mengenalinya lagi kecuali saudarinya, dari jari-jarinya.” Anas juga
berkata, “Kami berpendapat bahwa ayat berikut turun menyinggung tentangnya dan
orang-orang yang sepertinya. Yakni ayat, “Di antara orang-orang mukmin itu
ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah, maka
di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang
menunggu-nunggu dan mereka tidak merobah (janjinya).” (QS. Al Ahzâb[33]:23)
(HR. Bukhari, Muslim dan Tirmidzi)
Dari Abu
Hurairah Ra, ia berkata, “Rasulullah Saw dan para sahabat pergi ke Badar dan mendahului
kaum musyrikin. Maka, Rasulullah Saw bersabda, “Bangkitlah kalian menuju surga
yang luasnya sebesar langit dan bumi.” Tiba-tiba Umair Bin Hammam berkata,
“Hebat!” Mendengar itu, Rasulullah Saw bersabda, “Apa yang membuatmu
mengucapkan itu?” Ia menjawab, “Demi Allah, tidak ada ya Rasul kecuali aku
berharap dapat menjadi penghuninya.” Rasulullah Saw lalu bersabda, “Kamu salah
satu penghuninya, hai Umair.” Saat itu, ia mengeluarkan beberapa kurma dari
tempat bekalnya lalu memakannya, namun tiba-tiba ia berkata, “Jika aku masih
tetap hidup setelah menghabiskan kurma ini, sungguh itu terlalu lama.” Seketika
itu juga, ia membuang kurma yang ada di mulutnya dan terjun ke kancah
pertempuran hingga iapun terbunuh.” (HR. Muslim)
Bila kita
memperhatikan keadaan manusia dalam solat, haji, zikir dan doa, pasti kita akan
mengetahui bahwa hal itu menjadi penyebab kebahagiaan mereka disatu sisi namun
di sisi lain penyebab kesusahan dan kesengsaraan bagi orang yang mabuk dengan
dunia.
Utsman Bin
Affan berkata, “Seandainya hati kalian itu bersih, niscaya tidak akan pernah
bosan dengan kalam Allah. Tidak berlalu satu hari pun kecuali ia membaca dan
merenungi kitab Allah. Malah ada sebagian dari orang-orang yang hatinya bersih
itu berdiri melakukan solat, burung hinggap di atas kepalanya. Burung itu
mengiranya sebuah kayu, karena begitu lamanya ia berdiri dalam solat.”
Abu Darda
juga pernah menjengung seorang laki-laki yang saat meninggal dunianya mengucap Alhamdulillah
(segala puji bagi Allah). Abu Darda berkata, “Kamu benar. Sesungguhnya apabila
Allah memutuskan suatu keputusan, Dia sangat suka bila keputusan itu diterima
dengan ikhlas.”
Ada
beberapa orang yang mengikuti sikap sahabat, beriman kepada Allah dan jujur
terhadap para rasul, di antaranya Umar Bin Abdul Aziz. Ia berkata, “Tidak ada
kesenangan bagiku kecuali pada apa yang telah ditakdirkan.” Ada yang bertanya
kepadanya, “Apa yang kamu sukai?” Ia menjawab, “Apa yang ditentukan oleh Allah
Swt.”
Ketika
terjadi cobaan pada Imam Ahmad, seorang muridnya yang bernama Abu Sa’id datang
menemuinya dan berkata, “Hai Imam, katakan! Sesungguhnya kamu masih mempunyai
tanggungan keluarga.” (Maksudnya, murid itu meminta Imam Ahmad untuk
membenarkan ucapan bid’ah Al Ma’mun.) Namun Imam Ahmad berkata kepadanya, “Coba
kamu lihat ke luar.” Murid itupun melihat keluar dan menemukan begitu banyak
manusia sedang berkumpul untuk mencatat apa yang akan dikatakan oleh Imam
Ahmad. Setelah menyaksikan itu, ia kembali kepada Imam Ahmad. Imam Ahmad
kemudian berkata, “Demi Allah, aku tidak mau menyelamatkan diriku sendiri
sementara aku menyebabkan mereka tersesat.” Imam Ahmad tetap tegar dan sabar
hingga akhirnya cobaan itu berakhir. Ia memang benar-benar imam ahli sunah.
Diceritakan
juga bahwa suatu ketika, ibu Imam Abu Hanifah datang menemuinya dalam penjara.
Di sana ia dikurung dan dipukuli. Ibunya berkata, “Hai Nu’man, ilmu tidak
memberikan keuntungan apa-apa kepadamu malah pukulan yang kauterima. Sudah
saatnya kamu meninggalkannya.” Imam Abu Hanifah menjawab, “Hai ibu, seandainya
aku mengharapkan dunia, aku pasti mendapatkannya. Namun aku ingin menjaga ilmu
itu. Aku tidak akan menjerumuskan diriku kepada kebinasaan.” Sebab, ilmu itu
sebuah kemuliaan. Siapa yang menginginkan dunia dengan ilmu pasti akan ia
dapatkan dan siapa yang menginginkan akhirat dengan ilmu, juga pasti akan ia
dapatkan.
Syeikh
Ibnu Taimiyah pernah berkata di dalam penjara, “Apa yang dilakukan
musuh-musuhku kepadaku? Surgaku dan kebunku ada di dadaku. Kemanapun aku pergi,
ia selalu bersamaku, tak pernah terpisah dariku. Kurunganku adalah tempat
khalwat, kematianku adalah syahid dan terusirnya aku dari negeriku merupakan
tamasya bagiku.” Ia sering duduk berzikir kepada Allah setelah solat subuh. Ia
berkata, “Itu adalah sarapanku. Jika aku tidak sarapan, aku akan lemas.”
Jika
terus bercerita tentang orang-orang yang bahagia, pasti tak akan ada habisnya.
Kiranya cukuplah apa yang telah dipaparkan bagi orang yang mempunyai hati atau
pendengaran. Ringkasnya, lisan hal orang-orang saleh menuturkan,
“Seandainya para raja dan para anak raja mengetahui kenikmatan kami, pasti
mereka akan merebutnya dengan tajamnya pedang.”
... bersambung...
"Kebahagiaan". Suatu kata yang sekaligus menjadi sorotan setiap manusia yang hidup. apa sebenarnya kebahagiaan itu? bagaimana memperoleh kebahagiaan hakiki? dan mengapa setiap orang menginginkan suatu kebahagiaan namun yang didapat adalah hal yang lain? untuk mengetahui jawaban dari setiap pertanyaan yang anda pikirkan, simaklah tulisan dibawah ini!
ARTI KEBAHAGIAAN
Kebahagiaan
adalah lawan dari kesengsaraan. Manusia pun terbagi kepada, manusia bahagia dan
manusia sengsara. Allah Swt berfirman, “Di kala datang hari itu, tidak ada
seorangpun yang berbicara, melainkan dengan izin-Nya; maka di antara mereka ada
yang sengsara dan ada yang berbahagia. Adapun orang-orang yang sengsara, maka (tempatnya)
di dalam neraka, di dalamnya mereka mengeluarkan dan menarik nafas (dengan
merintih), mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali
jika Tuhanmu menghendaki (yang lain). Sesungguhnya Tuhanmu Maha Pelaksana terhadap
apa yang Dia kehendaki. Adapun orang-orang yang berbahagia, maka
tempatnya di dalam surga, mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi,
kecuali jika Tuhanmu menghendaki (yang lain); sebagai karunia yang tiada
putus-putusnya.”(QS. Hûd[11]:105-108)
Manusia
yang bahagia adalah orang yang bisa mengambil pelajaran dari orang lain dan
manusia yang sengsara adalah orang yang merasa sengsara dengan takdir Allah.
Ada sebagian orang yang mendefinisikan bahwa kebahagiaan itu adalah ketenangan
jiwa dan ketentraman yang dirasakan oleh seorang manusia di suatu waktu.
Definisi ini masih ada kekurangannya. Ketenangan jiwa terkadang bisa disebut
pada kelezatan sesaat namun berakhir dengan kepedihan abadi. Sedang ketentraman
yang dirasakan oleh seorang manusia, terkadang bisa palsu, semu dan cepat
hilang, seperti orang yang mengasuransikan masa depannya dengan menyimpan uang
di bank-bank konvensional, sebab ia sama saja menjadi musuh Allah dan
Rasul-Nya. Sementara berkah hartanya telah dihilangkan dan harta itu tidak akan
pernah aman dari kehilangan. Dengan demikian, sama saja ia percaya pada ilusi
dan fatamorgana.
Oleh sebab
itu, kebahagiaan yang dicari oleh seorang muslim itu lebih umum, lebih
konprehensif dan lebih sempurna dari kebahagiaan yang dicari oleh manusia di
timur dan di barat, atau yang diceritakan oleh para filosof, pakar sosial dan
lain-lain. Kebahagiaan yang dicari oleh seorang muslim itu adalah ridha
terhadap Allah dalam situasi senang atau susah, saat bersemangat ataupun saat
loyo. Kebahagiaan yang meliputi hati dan jiwa hingga saat fakir dan sakit
sekalipun. Kebahagiaan yang menjunjung tinggi perintah Allah adalah merupakan
puncak kebahagiaan seorang hamba di dunia dan akhirat. Bagi seorang hamba,
tidak ada yang lebih bermanfaat di dunia dan di akhirat daripada menjunjung
tinggi perintah Tuhannya. Tidaklah orang yang mendapatkan kebahagiaan di dunia
dan di akhirat itu kecuali karena ia menjunjung tinggi perintah Allah dan
tidaklah orang yang mendapatkan kesengsaraan di dunia dan di akhirat itu
kecuali karena ia menyia-nyiakan perintah-Nya.
Ar Raghib
Al Ashfihani berkata dalam bukunya yang berjudul Al Mufradât,
“Kebahagiaan adalah bantuan ilahi untuk manusia demi mencapai kebaikan.” Maka,
orang yang bahagia adalah orang mukmin yang mendapat taufik untuk melakukan
segala kebaikan dan meninggalkan segala kemungkaran. Ia adalah orang yang
dikehendaki oleh Allah dalam melakukan taat kepada-Nya, bersikap syukur dalam
kesenangan dan bersikap sabar dalam kesusahan. Ia juga tahu bahwa tempat
kembali dan tempat mengadu hanya kepada Allah. Maka, hatinya pun penuh dengan
ridha terhadap Allah dan hati nuraninya selalu mendorongnya untuk mencari
kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Sesungguhnya kebahagiaan hakiki adalah
karunia dari Allah yang diberikan kepada orang yang dikehendaki-Nya. Kita tidak
akan bisa mendapatkan apa yang ada di sisi Allah kecuali dengan taat
kepada-Nya.
MERENUNGI NASEHAT ADALAH JALAN MENUJU KEBAHAGIAAN
Dalam bukunya yang berjudul Al Jawâb Al
Kâfî Li Man Sa’ala ‘An Ad Dawâ Asy Syâfî, Ibnu Qayyim berkata, “Sebagian ulama
berkata, “Aku merenungi apa yang diperbuat oleh orang-orang yang berakal dan
aku dapati bahwa semua yang mereka perbuat itu bertujuan mencapai satu tujuan,
sekalipun cara mereka berbeda. Aku melihat bahwa mereka bertujuan untuk menolak
kesusahan dan kesengsaraan dari mereka. Ada yang dengan makan dan minum, ada
juga dengan berniaga dan menulis, ada pula dengan nikah dan mendengarkan
nyanyian, serta ada pula dengan hiburan dan permainan.
Aku
berkata, “Tujuan ini memang tujuan orang-orang yang berakal, namun cara-cara
yang mereka pergunakan tidak akan pernah menyampaikan mereka kepada tujuan,
bahkan malah menyampaikan mereka kepada lawannya. Aku tidak melihat dari
berbagai macam cara yang dilakukan yang mampu menyampaikan kepada tujuan
kecuali dengan cara mendekat kepada Allah, serta mengharap dan mengutamakan
ridha-Nya dari segala sesuatu. Sesungguhnya orang yang melakukan cara ini,
sekalipun tidak mendapatkan apa-apa di dunia namun ia pasti akan mendapatkan
bagian yang amat berharga. Tidak ada yang lebih bermanfaat bagi seorang hamba
daripada cara ini dan tidak ada yang lebih menyampaikannya kepada kelezatan,
kegembiraan dan kebahagiaan daripadanya. Semoga Allah memberikan taufik-Nya
kepada kita.”
Di tempat
lain di dalam buku itu juga, Ibnu Qayyim berkata, “Allah telah memutuskan satu
keputusan yang tidak akan bisa dirubah selama-lamanya, yaitu, “Akibat baik
hanya pada ketakwaan dan ganjaran yang baik hanya untuk orang-orang yang
bertakwa. Hati ibarat papan yang masih utuh sedangkan niat dan kata hati ibarat
pahat yang memahat papan itu. Apakah pantas seorang yang berakal membiarkan papan
hati dipahat oleh dusta, tipu daya dan angan-angan belaka serta fatamorgana
yang tak hakiki. Kebijaksanaan, ilmu dan petunjuk mana yang selaras dengan
pahatan ini?”
Dalam
tafsir firman Allah, “Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran
terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang
beriman dan mereka selalu bertakwa. Bagi mereka berita gembira di dalam
kehidupan di dunia dan (dalam kehidupan} di akhirat. Tidak ada perubahan bagi kalimat-kalimat
(janji-janji) Allah. Yang demikian itu adalah kemenangan yang besar” (QS.
Yûnus[10]:62-64), Ibnu Qayyim berkata, “Seorang mukmin yang ikhlas hanya kepada
Allah termasuk orang yang paling baik kehidupannya, paling baik keadaannya, dan
paling lapang dadanya serta paling gembira hatinya. Ini merupakan surga dunia
sebelum ia mendapatkan surga akhirat.”
Ibnu Qayyim
juga berkata, “Jangan kamu kira bahwa firman Allah Swt yang berbunyi, “Sesungguhnya
orang-orang yang banyak berbakti benar-benar berada dalam surga yang penuh kenikmatan,
dan sesungguhnya orang-orang yang durhaka benar-benar berada dalam neraka”
(QS. Al Infithâr[82]:13-14), hanya tertentu pada kenikmatan dan neraka akhirat
saja, tapi juga ada di tiga fase kehidupan manusia, yaitu, di dunia, di alam
barzakh dan di surga. Bukankah kenikmatan hakiki itu adalah kenikmatan di hati
dan bukankah azab hakiki itu adalah azab di hati? Azab mana yang paling hebat
dari ketakutan, kegundahan, kesedihan, kesempitan, berpaling dari Allah,
melupakan hari akhir, bergantung pada selain Allah dan putus hubungan
dengan-Nya. Allah Swt berfirman, “Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada
Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama'ah
hamba-hamba-Ku, masuklah ke dalam surga-Ku.” (QS. Al Fajr[89]:27-30)
Ibnu Qayyim
berkata lagi, “Sebaik-baik apa yang ada di dalam dunia adalah mengenal-Nya dan
mencintai-Nya. Paling lezat apa yang ada di dalam dunia adalah melihat-Nya dan
menyaksikan-Nya. Mencintai-Nya dan mengenal-Nya adalah penyejuk mata, kelezatan
jiwa, kebahagiaan hati dan kenikmatan dunia dan kesenangannya. Bahkan kelezatan
dunia tanpa cinta dan mengenal-Nya dapat berubah menjadi kepedihan dan siksa,
serta kehidupan tetap terasa sempit. Maka, tidak ada kehidupan yang lebih baik
kecuali dengan ridha Allah Swt.”
Ibnu Qayyim
juga berkata, “Tidak ada sesuatu pun yang lebih bermanfaat bagi seorang hamba
daripada menghadap kepada Allah, sibuk menyebut-Nya dan merasakan kenikmatan
cinta-Nya serta mengutamakan ridha-Nya, bahkan tidak ada satupun kehidupan dan
kenikmatan tanpa ridha-Nya, tidak ada kegembiraan juga tidak ada kesenangan
kecuali dengan ridha-Nya.”
Ibnu Qayyim
juga berkata, “Orang-orang yang berbakti selalu dalam kenikmatan, sekalipun
kehidupan mereka susah dan dunia bagi mereka terasa menghimpit. Sedangkan
orang-orang fasik selalu dalam neraka (azab), sekalipun dunia terasa luas bagi
mereka. Allah Swt berfirman, “Barang siapa yang mengerjakan amal saleh, baik
laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan
kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada
mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.”
(QS. An Nahl[16]:97)
Dalam
tafsir ayat, “Dan barang siapa berpaling
dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami
akan menghimpunkannya pada hari kiamat
dalam keadaan buta" (QS. Thâhâ[20]:124), kehidupan sempit itu ada
yang mengartikan dengan azab kubur. Memang tidak ada yang meragukan bahwa azab
kubur itu adalah kehidupan yang sempit. Lafal dalam ayat itu mencakup apa yang
lebih umum, sebab bentuk lafalnya nakirah (tidak jelas).
Sebenarnya,
walaupun orang yang berpaling dari peringatan Allah itu hidup dalam berbagai
kenikmatan di dunia, namun di dalam hatinya penuh dengan kegelisahan, kehinaan
dan kerugian akibat dari angan-angan dan azab. Namun itu semua tertutup oleh
gelombang syahwat dan mabuk cinta dunia atau kepemimpinan, sekalipun tidak
mabuk karena minuman. Mabuk seperti ini lebih dahsyat dari mabuk karena minuman
keras. Mabuk karena minuman bisa saja membuat pelakunya sadar, sedangkan mabuk
karena hawa nafsu dan cinta dunia tidak akan dapat menyadarkan pelakunya
kecuali ketika dia sudah berada di antara tentara kematian. Kehidupan
yang sempit pasti terjadi pada orang yang berpaling dari peringatan Allah yang
telah menurunkan peringatan itu lewat Rasulullah Saw, baik di dunia, di alam
barzakh maupun di hari kiamat nanti. Matanya tak akan pernah sejuk, hatinya tak
akan pernah tenang dan jiwanya tak akan pernah tentram kecuali dengan izin
Tuhannya dan Dzat yang layak untuk disembahnya. Setiap sesembahan selain Allah
adalah batil.
Siapa yang
matanya sejuk dengan Allah, pasti semua mata akan sejuk dengannya dan siapa
yang matanya tidak pernah sejuk dengan Allah, pasti jiwanya akan merasakan
kekeringan. Sesungguhnya Allah menciptakan kehidupan yang baik hanya untuk
orang-orang yang beriman dengan-Nya dan beramal saleh, sebagaimana firman-Nya,
“Barang siapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan
dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan
yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala
yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. An Nahl[16]:97)
Orang yang
beriman dan beramal saleh pasti mendapatkan balasan di dunia dengan kehidupan
yang baik dan mendapatkan surga di akhirat kelak. Mereka mendapatkan dua
kehidupan yang baik dan mereka akan tetap hidup di dua negeri itu.”
...Bersambung...